Selasa, 25 April 2017


4COMMENTS
partner startup | featured image
Saya sangat payah dalam bidang programming. Jadi ketika saya mendapat ide tentang sebuah aplikasi, saya tahu bahwa hal pertama yang harus saya lakukan adalah mencari seorang developer untuk diajak bekerja sama.

Saat itu saya masih relatif baru di dunia startup, jadi saya tidak memiliki koneksi untuk mendapatkan partner atau karyawan yang saya butuhkan. Saya benar-benar tidak tahu harus mulai dari mana.
Lewat artikel ini, saya berharap kamu bisa belajar dari pengalaman saya, dan bisa menemukan partner yang cocok dengan kebutuhanmu.

Apakah kamu benar-benar butuh partner?

Sebelum memutuskan untuk mencari partner, saya sempat berkontemplasi tentang perlu atau tidaknya partner itu sendiri. Daripada partner, mungkin lebih baik saya mengumpulkan dana melalui Kickstarter saja, lalu mempekerjakan developer dari luar.
Saya pun mencoba merancang kampanye, memproyeksikan anggaran, dan berkonsultasi dengan beberapa orang yang “ahli” soal Kickstarter.
Untuk menjalankan rencana saya, saya perlu menggalang dana US$100.000 (sekitar Rp1,3 miliar). Para ahli tersebut memberi tahu bahwa kampanye yang berhasil mengumpulkan lebih dari US$100.000 (satu persen peringkat teratas Kickstarter) rata-rata menghabiskan dana sekitar US$10.000, dan sudah mempersiapkan diri setidaknya enam bulan sebelum peluncuran kampanye.
Tentu saja ada juga orang-orang yang tidak mengeluarkan dana sama sekali, dan orang-orang yang keluar dana lebih besar dari itu. Jumlah di atas hanya perkiraan rata-rata. Tapi yang jelas cara ini tidak cocok dengan saya.
Saya menyimpulkan bahwa Kickstarter cocok untuk meluncurkan produk yang punya bentuk fisik, tapi tidak untuk produk aplikasi messaging. Apalagi jika saya menggandeng developer dari luar yang belum tentu memiliki passion seperti seorang co-founder.

Mencari kenalannya kenalan

Setelah menjauhi Kickstarter, saya mulai mencari partner dengan cara menyampaikan ide ke semua orang yang saya kenal. Kemudian saya bertanya pada mereka, apakah mereka kenal seseorang yang kira-kira tertarik.
Dengan koneksi yang terbatas, tentu saja saya gagal. Jam terbang saya di dunia startup baru sekitar setengah tahun, jadi saya belum dikelilingi oleh kenalan-kenalan yang tepat.

Mencari partner di Tinder

Saya sempat mempertimbangkan ini, mencari-cari info di Google, lalu menampar diri sendiri dan kembali ke dunia nyata.

Mencari kenalan di co-working space

Setelah kehabisan cara untuk mencari partner, saya memutuskan untuk datang ke co-working space terdekat, Radius Cowork, pada suatu Jumat sore. Tujuan saya adalah menyajikan ide pada teman saya, Sean, dan bertanya apakah dia memiliki kenalan yang berminat.
Saya dan Sean menghabiskan waktu sekitar satu jam untuk memetakan keseluruhan ide di atas whiteboard dan saling bertukar masukan. Jelas sekali bahwa ia benar-benar tertarik dengan ide saya.
Setelah sesi brainstorming selesai, Sean mundur sedikit, memandangi hasil corat-coretnya di whiteboard, menarik napas panjang, lalu berkata, “Aku tahu orang yang sempurna untuk rencana ini.”
Sean kemudian memberi tahu lebih lanjut tentang orang yang ia maksud, dan mengapa orang tersebut sangat cocok. Ia juga berkata bahwa bila ingin kerja sama ini berhasil, saya harus menunjukkan keseriusan saya. Sean pun mengatur pertemuan antara saya dan partner potensial itu minggu depannya. Saatnya bersiap-siap.

Melakukan pitching ke partner

Fakta Startup | Startup butuh business plan yang siap guna
Saya benar-benar paham apa yang dirasakan developer ketika ada orang berkata bahwa dia punya ide untuk aplikasi. Mungkin mereka berpikir: “Ya ampun, muncul lagi. Orang dengan ide terhebat sepanjang masa. Semoga saja ide kali ini lebih baik daripada orang sebelumnya.”
Saya paham karena dulu saya sempat mengambil kuliah web development sebelum pindah ke teknologi digital marketing. Padahal kuliah itu hanya satu semester, tapi sampai sekarang pun masih ada orang yang mendatangi saya dengan ide aplikasi. Saya tidak bisa membuat aplikasi, tapi setidaknya saya tahu jalan pikiran developer, jadi saya harus mempersiapkan diri.
Inilah hal-hal yang saya rasa perlu disiapkan:
  • Rencana bisnis. Saya ingin supaya dijabarkan dengan menyeluruh. Saya menyusun rencana bisnis setebal sepuluh halaman, lengkap dengan timeline, proyeksi, dan lain-lain. Yang saya lakukan hanya mencari di Google tentang apa saja yang harus ada di rencana bisnis, lalu menyusunnya berdasarkan semuanya itu.
  • Prototipe konseptual. Saya tidak mau datang ke meeting hanya dengan membawa ide. Saya ingin bisa menunjukkan sesuatu kepada calon partner, sehingga mereka bisa mendapat gambaran jelas. Jika saya hanya bercerita tentang ide, bisa saja mereka akan membayangkan hal yang berbeda. Dengan InVision dan Fiverr, saya menyusun prototipe konseptual dalam waktu kurang dari seminggu, dengan biaya hanya US$50 (sekitar Rp660.000).
  • Struktur bisnis dan rincian saham. Satu hal yang menurut saya paling utama adalah kita harus transparan tentang penawaran dan rencana ke depan. Saya menjelaskan secara detail tentang apa saja yang kami butuhkan untuk operasional, juga tentang rencana mencari pendanaan. Dengan menjabarkan semua, saya menunjukkan bahwa saya serius, dan bahwa saya punya rencana matang.
  • Akses ke semua hal. Saya ingin ketika kami berpisah, calon partner saya punya salinan atau akses ke semua materi yang kami diskusikan. Dengan demikian, ia akan langsung merasa seperti sudah menjadi partner.
  • Waktu untuk berpikir. Saya akan memberi waktu seminggu pada calon partner untuk mempertimbangkan penawaran saya. Setelahnya, kami bisa bertemu lagi untuk membuat keputusan akhir.

Hari pertemuan

Saat kami bertemu pertama kali, saya langsung tahu bahwa calon partner saya sangat berminat. Kami menghabiskan waktu makan siang selama satu jam lebih untuk saling bertukar ide. Kami mendiskusikan semua materi yang sudah saya siapkan dengan lancar. Dia berwawasan luas, punya passion tinggi, dan yang paling utama, dia sangat tertarik. Dia tahu bahwa saya serius, dan saya pun tahu bahwa dia juga serius.
Saya pastikan dia mendapat akses ke semua materi diskusi sehingga dia bisa menelaah topik pembicaraan kami lebih mendetail. Kemudian kami berpisah, dan berjanji akan bertemu lagi seminggu kemudian.

Keputusan akhir

Seminggu kemudian, kami kembali bertemu untuk minum kopi. Kami berbincang-bincang lebih dari dua jam, dan saling bertukar ide. Ia memiliki banyak ide tambahan yang tidak pernah terpikir oleh saya sebelumnya.
Semakin mendekati akhir meeting, kami semakin merasa seperti dipertemukan oleh takdir. Kami mulai membicarakan tentang hal-hal hebat yang bisa kami capai di masa depan. Pada akhirnya, ia pun berkata, “Baiklah, saya ikut.” Dan kami pun menjadi partner.

Kesimpulan

Bila kamu ingin mencari partner, kamu harus serius. Untuk menunjukkan keseriusanmu, kamu harus punya persiapan yang baik. Ide yang kamu tawarkan harus menarik, karena bila ide itu menarik, kamu akan bisa mencurahkan passion terhadapnya.
(Artikel ini pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Inggris. Isi di dalamnya telah diterjemahkan dan dimodifikasi oleh Ayyub Mustofa sesuai dengan standar editorial Tech in Asia Indonesia. Diedit oleh Septa Mellina)

ABOUT PETER

Communications enthusiast, founder UNUM messenger.
You can create a community post just like Peter here!