Selasa, 14 Maret 2017

Potensi Teknologi Augmented Reality Bagi Pengembang Aplikasi di Indonesia






Belakangan ini topik seputar Augmented Reality kembali sering mencuat di acara-acara seputar teknologi informasi di Indonesia. Augmented Reality sendiri sebetulnya adalah sebuah teknologi yang membuat kita dapat menyatukan antara dunia nyata dengan dunia digital, contoh terbaru dalam pengimplementasiannya adalah Google Project Glass.
Di CHIP Meetup yang diselenggarakan minggu lalu di Indonesia Cellular Show dengan topik pembahasan utamanya seputar teknologi Augmented Reality, saya berkesempatan untuk mendapatkanya banyak informasi tentang potensi teknologi Augmented Reality untuk para pengembang aplikasi di Indonesia.
Untuk saat ini, pengembang aplikasi yang bisa mengimplentasikan teknologi Augmented Reality belum banyak di Indonesia. Padahal, permintaan akan aplikasi yang menggunakan teknologi Augmented Reality cukup tinggi dan biasanya proyek-proyek yang menggunakan teknologi ini harganya di atas rata-rata.
Bagi kebanyakan pengembang aplikasi yang ingin menghasilkan uang dari aplikasi yang ber-Augmented Reality, model Business to Business (B2B) adalah yang paling berpotensi saat ini. Artinya, pengembang aplikasi membuat aplikasi yang menggunakan Augmented Reality bukan untuk dijual langsung ke konsumen melainkan ke perusahaan.

Salah satu alasan banyaknya perusahaan di Indonesia menggunakan Augmented Reality adalah untuk meningkatkan penjualan mereka. Seperti misalnya sebuah perusahaan memiliki produk baru dan ingin banyak calon konsumen untuk melihat produk baru tersebut maka digunakanlah aplikasi unik yang menggunakan teknologi Augmented Reality. Jika pembaca pernah melihat video-video seputar Augmented Reality tentu dapat melihat seberapa menariknya pengimplementasian teknologi Augmented Reality.
Augmented Reality hingga saat ini lebih banyak dipakai di bidang edukasi dan entertainment. Dan, diprediksikan Augmented Reality akan menjadi teknologi yang umum di masa depan. Melihat potensi Augmented Reality ini maka tidak ada salahnya jika pengembang aplikasi mencoba mempelajari teknologi Augmented Reality sebagai investasi masa depan.
Beberapa perusahaan yang cukup aktif mensosialisasikan teknologi Augmented Reality di Indonesia adalah Qualcomm dan AR & Co. Bagi para pengguna smartphone kemungkinan besar sudah kenal dengan Qualcomm yang chipset-nya tertanam di banyak smartphone yang beredar saat ini. Sedangkan AR & Co adalah salah satu pionir perusahaan Indonesia yang fokus di teknologi Augmented Reality.
Qualcomm sendiri memiliki SDK Augmented Reality yang dapat digunakan bagi para pengembang aplikasi dalam mengembangkan aplikasi yang menggunakan teknologi Augmented Reality, Vuforia. Saat ini dengan Vuforia para pengembang aplikasi dapat membuat aplikasi ber-Augmented Reality untuk platform iOS dan Android.
Contoh aplikasi yang dapat dibuat dengan Vuforia adalah seperti video di bawah ini:
Bagi para pengembang aplikasi yang tertarik untuk mendalami teknologi Augmented Reality, saat ini sudah banyak tersedia di Internet tentang video demonstrasi teknologi Augmented Reality hingga tools pembantu yang dapat digunakan untuk mengembangkan aplikasi ber-Augmented Reality. Augmented Reality menurut saya adalah sebuah teknologi yang kemungkinan besar terlihat “seksi” di mata kebanyakan pengembang aplikasi. Jadi, selamat mencoba ;)

sumber