Rabu, 22 Maret 2017

Mengapa Jurusan Kuliah Kamu Tidaklah Penting di Dunia Startup


7COMMENTS
Mengapa-Jurusan-Kuliah-Kamu-Tidaklah-Penting-di-Dunia-Startup
Dari waktu ke waktu saya kerap mendengar keluhan “salah jurusan.” Biasanya ini keluar dari mulut mahasiswa yang merasa terjebak dengan perkuliahan mereka.

Penyebab terjadinya hal ini beragam. Mulai dari hanya mengikuti keinginan orang tua atau mencoba sesuatu yang mereka pikir suka. Namun ternyata kenyataan berbeda jauh dengan harapan.
Tapi bagi saya, salah jurusan hanya berlaku jika kamu ingin menjadi dokter namun mengambil jurusan seni musik. Beberapa profesi seperti dokter memang membutuhkan jurusan yang spesifik. Namun di luar itu jurusan tidak berperan begitu banyak.

Jurusan bukan akhir perjalanan

Dari survei singkat yang saya lakukan, saya hanya menemukan kurang dari 20 persen orang yang benar-benar bekerja sesuai dengan jurusan mereka. Sisanya benar-benar acak. Bahkan ada banyak orang yang tidak menyangka mereka bakal mengerjakan apa yang mereka kerjakan sekarang.
Apa artinya ini? Apakah jurusan sama sekali tidak penting? Jawabannya adalah tidak sepenting yang kamu bayangkan. Startup dan perusahaan multinasional sebenarnya hanya menginginkan otak kamu.
Jika kamu berhasil mendapatkan IPK 3.6 untuk bidang Fisika atau Matematika, maka bagus. Selamat untuk itu. Namun jangan menyangka kamu akan dapat langsung mengaplikasikan apa yang telah kamu pelajari saat mulai bekerja nantinya.
Bagaimana sekarang bisnis berjalan adalah hasil dari formulasi dan juga penelitian berpuluh-puluh tahun. Namun banyak hal sudah terjadi dalam tahun belakangan ini seperti internet dan media sosial. Dua hal ini saja langsung mengubah begitu banyak ilmu yang sudah bertahun-tahun digunakan oleh industri.

Bagaimana perusahaan melihat lulusan

Perusahaan dan startup tidak lagi melihat lulusan dengan cara yang sama. Jika kamu mengerti Matematika, maka itu artinya kamu mengerti logika. Hal-hal seperti inilah yang dicari startup maupun perusahaan inginkan dan butuhkan.
Kebanyakan perusahaan tidak memerlukan kamu untuk menghitung integral dari sebuah ekuasi atau energi yang dibutuhkan untuk mempercepat sebuah benda. Jika kamu cepat tanggap dan mempunyai logika yang kuat maka pada dasarnya kamu bisa diberdayakan untuk mengerjakan berbagai hal.
Saya pertama kali mengetahui ini dari salah satu kepala perekrutan konsultan internasional. Awalnya saya merasa biasa saja, namun seiring saya mulai mencari orang-orang untuk bergabung dengan Tech in Asia, saya merasa bahwa fakta ini semakin kuat.Di dunia startup ataupun teknologi masa sekarang yang lebih dibutuhkan adalah kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan baru dan kemampuan untuk belajar dengan cepat.

Biarkan nasi menjadi bubur, atau…

Nah sekarang apa yang dapat kamu lakukan jika kamu sudah “salah jurusan”? Saran pertama saya adalah berpindah jurusan. Ini akan membuat kamu kehilangan satu sampai dua tahun untuk mengulang semuanya. Namun secara pribadi saya merasa dua tahun dalam siksaaan lebih baik ketimbang empat tahun ada di “neraka.”
Dalam dunia yang serba kompetitif, perbedaan dua tahun tidak akan berpengaruh banyak. Ini bukan masalah senioritas belaka, ini masalah siapa yang dapat belajar dengan cepat.
Kamu bisa saja lulus lima tahun tahun lebih awal, namun seorang mahasiwa semester empat mungkin saja lebih jago dari kamu dalam hal pemrograman. Dengan begitu terbukanya sumber pengetahuan, batasan antara seseorang yang kuliah dengan yang tidak sudah semakin tipis. Setipis kertas ijazah.

Siapkan “senjata” meraih karier impian

Jika kamu tidak berani mengganti jurusan atau sudah kepalang tanggung maka gunakan kesempatan yang ada untuk melatih diri kamu. Kamu tidak perlu menyukai Kimia untuk mendapatkan nilai B, kamu hanya perlu tahu secara logis mengapa sebuah reaksi kimia bisa terjadi. Pelajaran Kimia yang kamu benci ini mungkin tidak akan berguna nanti secara langsung, namun proses pemikiran kamu akan terbangun dan itu jauh lebih penting.
Kamu juga sebaiknya mulai mempersiapkan diri dengan kemampuan  yang dibutuhkan pekerjaan impian kamu. Sebagai contoh, saya adalah lulusan ITHB jurusan Teknik Industri yang dalam kesehariannya mempelajari Kimia, Fisika, Statistik, dan Ergonomi.
Meski begitu, saya selalu ingin menjadi seorang konsultan manajemen dan saya tahu salah satu kebutuhannya adalah kemampuan Microsoft Excel yang tinggi. Walaupun tidak dibutuhkan dalam jurusan saya waktu itu, namun saya terus melatih diri saya.
Sampai sekarang saya belum menjadi seorang konsultan manajemen, namun setidaknya saya pernah menjadi konsultan human capital management. Yang juga tak kalah penting adalah kemampuan menggunakan Microsoft Excel ini terus saya gunakan dalam kehidupan sehari-hari sampai sekarang.
Jadi, untuk kamu yang merasa “salah jurusan,” sudahkah siap menentukan jalan?
(Diedit oleh Pradipta Nugrahanto dan Fadly Yanuar Iriansyah, sumber gambar CollegeDegrees360.)

ABOUT HENDRI

Managing Editor @TechinasiaID | Co-Founder @gamesaku | Growth Hacker | Loves coffee, gunpla, great ideas & minds, and my ER-PT4.