Dimulai dari isapan jempol sekelompok penulis fiksi ilmiah, Artificial Intelligence (AI) kini telah menjadi bagian dalam keseharian kita. Walaupun mungkin masih butuh bertahun-tahun untuk bisa merasakan seorang asisten robot yang membantu pekerjaan kantor kita, tetapi AI kini telah memiliki dampak yang cukup signifikan di berbagai lini kehidupan kita.
Ramalan cuaca, penyaring e-mail spam, prediksi di mesin pencari, sampai Siri dan Cortana, adalah beberapa contoh dari penggunaan AI di keseharian kita. Apa yang menjadi kesamaan pada sejumlah teknologi tadi adalah algoritma khusus yang memungkinkan teknologi ini dapat bereaksi serta merespon secara real time.
Mungkin jalan kita masih panjang hingga AI dapat menjadi teknologi yang sempurna, tetapi efek positif yang akan dihasilkannya terhadap lingkungan dalam hal efisiensi dan efektifitas sangatlah tidak ternilai.
Bukan temuan baru

Konsep Artificial Intelligence sebenarnya sudah jauh dipikirkan, bahkan sejak zaman Yunani Kuno. Talos dari Crete, robot perunggu dari Hephaestus, dan Galatea dari Pygmalion menjadi beberapa contoh ide “mesin yang hidup” yang dicetuskan di era tersebut. Walau begitu, konsep dari Artificial Intelligence ini baru sekitar setengah abad lalu berubah dari hanya sebuah mitos menjadi sebuah realitas yang faktual.