Belakangan ini topik seputar Augmented Reality kembali sering mencuat di acara-acara seputar teknologi informasi di Indonesia. Augmented Reality sendiri sebetulnya adalah sebuah teknologi yang membuat kita dapat menyatukan antara dunia nyata dengan dunia digital, contoh terbaru dalam pengimplementasiannya adalah Google Project Glass.
Di CHIP Meetup yang diselenggarakan minggu lalu di Indonesia Cellular Show dengan topik pembahasan utamanya seputar teknologi Augmented Reality, saya berkesempatan untuk mendapatkanya banyak informasi tentang potensi teknologi Augmented Reality untuk para pengembang aplikasi di Indonesia.
Untuk saat ini, pengembang aplikasi yang bisa mengimplentasikan teknologi Augmented Reality belum banyak di Indonesia. Padahal, permintaan akan aplikasi yang menggunakan teknologi Augmented Reality cukup tinggi dan biasanya proyek-proyek yang menggunakan teknologi ini harganya di atas rata-rata.
Bagi kebanyakan pengembang aplikasi yang ingin menghasilkan uang dari aplikasi yang ber-Augmented Reality, model Business to Business (B2B) adalah yang paling berpotensi saat ini. Artinya, pengembang aplikasi membuat aplikasi yang menggunakan Augmented Reality bukan untuk dijual langsung ke konsumen melainkan ke perusahaan.