Kamis, 08 Juni 2017

Mengapa Twitter Masih Menjadi Platform Interaksi yang Menarik bagi Kepala Negara

0COMMENTS
Twitter Bird | Ilustrasi
Pada laporan kuartal pertama 2017, Twitter mencatat penambahan angka pengguna aktif bulanan sebanyak enam persen atau sembilan juta. Secara total, kini Twitter telah mempunyai 328 juta pengguna aktif, sekaligus menjadi pencapaian yang tertinggi sejak tahun 2015.

Menurut penelitian Twiplomacy Study 2017 yang dilakukan oleh perusahaan komunikasi Burson-Marsteller, hal ini tak lepas dari ramainya diskusi mengenai politik yang menghiasi linimasa Twitter belakangan ini. CEO Burson-Marsteller, Don Baer, menyebutkan bahwa Twitter merupakan jejaring sosial utama yang digunakan oleh 276 Kepala Negara dan Pemerintahan, termasuk Menteri Luar Negeri di 178 negara. Jumlah tersebut sudah mewakili 92 persen negara anggota Perserikatan Bangsa Bangsa.
Media sosial bisa membantu seorang politisi membentuk komunitas pendukung dan pemilih potensial. Namun tidak ada jaminan kesuksesan dalam pemilu. Meski begitu, seperti apa yang dikatakan Presiden AS Donald Trump, ‘tanpa cuitan, saya tidak akan berada di sini’
Menurut Baer, studi ini menunjukkan bahwa telah terjadi evolusi terkait cara para pemimpin dunia menyampaikan pesan politik maupun kebijakan yang mereka ambil kepada publik. Keaktifan pemimpin dunia berinteraksi di media sosial seperti Twitter, kata Baer, setidaknya mampu membentuk basis massa ketika pemilihan umum.
Cuitan Donald Trump di Twitter | Screenshot
“Media sosial bisa membantu seorang politisi membentuk komunitas pendukung dan pemilih potensial. Namun tidak ada jaminan kesuksesan dalam pemilu. Meski begitu, seperti apa yang dikatakan Presiden AS Donald Trump, ‘tanpa cuitan, saya tidak akan berada di sini’,” ujar Baer kepada Tech in Asia Indonesia.

Tingkatkan efektivitas dengan buzzer

Mengingat besarnya kontribusi cuitan di Twitter, penelitian Twiplomacy Study 2017 juga menyebutkan bahwa pemerintah atau kepala negara yang tak memiliki banyak follower akan menghadapi kesulitan yang lebih rumit ketika ingin menyampaikan pesan yang efektif kepada publik. Untuk mengatasi hal ini, para kepala negara tersebut biasanya akan memberi tag kepada pengguna Twitter lain yang memiliki lebih banyak follower, setiap kali mereka mengunggah sesuatu.
Seperti Kementerian Luar Negeri Rusia, yang memberikan tag kepada departemen lain, kedutaan besar mereka di berbagai negara, hingga para pengguna Twitter yang memiliki pengaruh (influencer/buzzer). Mereka yang mendapat tag, akan menerima notifikasi sehingga cuitan itu bisa disebarkan ke lebih banyak orang dengan melakukan retweet.

Cuitan teks masih menjadi favorit

Hasil analisis Twitter menyebutkan bahwa cuitan yang disertai gambar asli mampu meningkatkan peluang retweet sebesar 35 persen. Selain itu, cuitan seperti ini rata-rata mendapat tanda like and share sebanyak 619 kali. Cuitan dengan lampiran video asli (bukan tautan video) rata-rata bahkan mengantungi 2.044 interaksi like and retweet.
Namun sejak 1 Januari 2016, dari 946.000 cuitan yang ditulis para pemimpin dunia, tiga perempatnya hanya mengirimkan cuitan berbasis teks, termasuk cuitan yang otomatis menampilkan visual dari tautan situs yang dilampirkan.
Meski cuitan yang memiliki gambar memiliki peluang retweet lebih besar, nyatanya hingga saat ini cuitan yang hanya menuliskan teks masih mengumpulkan keterlibatan paling banyak dengan rata-rata 2.696 interaksi per postingan.
Di Indonesia sendiri, Presiden Jokowi merupakan sosok yang cukup aktif menggunakan Twitter. Ia bahkan termasuk dalam sepuluh besar pemimpin dunia dengan follower terbanyak di platform media sosial asal Amerika Serikat tersebut.
Selain di Twitter, Presiden Jokowi juga menggunakan Facebook untuk berkomunikasi dengan masyarakat Indonesia. Menariknya, meski total pengguna Facebook jauh lebih besar dibanding Twitter, hingga saat ini follower Presiden Jokowi di Twitter justru lebih banyak dibanding di Facebook.
Kondisi serupa juga terlihat di akun Twitter dan Facebook Donald Trump. Presiden AS ke-45 ini hanya memiliki follower sekitar 22 juta di Facebook yang ia kelola sendiri. Sedangkan di Twitter, Trump memiliki follower sebanyak 32 juta.
Perbedaan jumlah follower yang signifikan juga terlihat dalam akun @POTUS, yang merupakan akun resmi Kepresidenan AS, baik di Twitter maupun Facebook. Akun @POTUS di Facebook hanya memiliki follower sekitar 1,6 juta. Sementara follower @POTUS di Twitter sudah menembus 18,7 juta. Hal ini seperti menunjukkan kalau Twitter masih cukup bisa diandalkan dalam komunikasi politik.
(Diedit oleh Pradipta Nugrahanto)

ABOUT DANANG

Penggemar Warkop DKI era 80'an dan film bertema retro