Selasa, 30 Mei 2017

6 Miskonsepsi tentang Profesi Programmer


COMMENTS
programmer|featured image
Banyak muncul miskonsepsi seputar dunia pemrograman. Ada yang berpikir bahwa profesi programmer hanya diperuntukkan bagi geek dan ahli matematika. Ada juga yang beranggapan bahwa programmer tidak boleh melakukan kesalahan saat menekuni pekerjaannya.

Miskonsepsi ini nyatanya masih banyak dipercaya oleh masyarakat. Tapi, jika kamu ingin menjadi seorang programmer, pahamilah bahwa miskonsepsi yang kamu dengar selama ini tidak terbukti kebenarannya.Apa saja miskonsepsi tersebut?


Harus jago matematika

Banyaknya orang yang percaya pada hal ini membuat kita jadi ikut-ikutan percaya bahwa seorang programmer harus jago matematika. Kenyataannya, seorang programmer akan menghabiskan waktunya untuk coding, bukan berkutat dengan rumus matematika.
Meski demikian, kamu memang perlu mempelajari dasar-dasar aljabar dan ilmu matematika lainnya jika ingin membuat program yang membutuhkan perhitungan matematis atau komputer grafis.

Minimal IQ harus 160

Seseorang yang tahu dan mengerti cara berkomunikasi, tentunya bisa belajar pemrograman. Dengan kata lain, tingginya IQ seseorang tidak menentukan apakah ia mampu mengikuti proses belajar pemrograman. Karena pada dasarnya, pemrograman merupakan sebuah bahasa yang membantu kita berkomunikasi dan memberikan perintah kepada komputer untuk melakukan suatu hal dan memecahkan masalah.

Kuliah untuk belajar coding

Prototyping Coding | Featured
Tidak sedikit yang beranggapan bahwa seseorang yang ingin belajar pemrograman harus kuliah atau belajar di universitas. Sebenarnya hal ini bukanlah keharusan.
Berkat kecanggihan internet, kamu pun bisa belajar pemrograman secara otodidak. Kamu juga bisa meminta bimbingan dari mentor atau guru untuk melengkapi proses belajar otodidak tersebut. Situs-situs seperti Codecademy dan Stackexchange bisa menjadi referensimu untuk belajar pemrograman secara otodidak.
Tapi, jika kamu bercita-cita menjadi ahli di bidang pemrograman, belajar secara otodidak tentu akan memakan waktu yang lama. Kamu bisa memanfaatkan lembaga pendidikan yang menyediakan program khusus pemrograman.

Usia masih di bawah 17 tahun

Banyak orangtua yang khawatir saat anak-anaknya mulai menyentuh komputer dan sudah menunjukkan ketertarikannya pada dunia pemrograman. Padahal, hal ini seharusnya menjadi motivasi untuk belajar lebih jauh tentang pemrograman.
Usia tidak membatasi seseorang yang ingin belajar pemrograman. Justru ada banyak situs yang memang diciptakan khusus untuk anak-anak seperti Scratch dan Alice, karena situs ini lebih menonjolkan tutorial secara visual yang lebih mudah dicerna anak-anak dalam proses belajar.

Jago pemrograman dalam seminggu

Apakah kamu masih percaya dengan “rayuan” ini? Penting untuk kamu ketahui bahwa dunia pemrograman sangat luas dan kompleks. Sehingga, tidak mungkin seseorang mampu menguasainya hanya dalam waktu seminggu.
Jika kamu ingin menguasai sebuah bahasa pemrograman dalam waktu singkat, maka kamu bisa bergabung dengan program intensif selama beberapa bulan. Kalau kamu ingin menguasai beberapa bahasa sekaligus, kamu bisa mengambil program dengan jangka waktu lebih lama. Jangan lupa untuk bergabung di berbagai komunitas agar pengetahuan kamu tentang pemrograman semakin dalam.

Menghafal semua syntax

Jangan salah paham dengan anjuran untuk menghafal semua kode pemrograman. Karena pada dasarnya, belajar pemrograman fokus pada pemahaman tentang bagaimana cara kerja sebuah kode program.
Jadi, kamu tidak perlu khawatir jika kesulitan menghafal syntax. Sebab kamu akan menuliskan kode yang sama berkali-kali sebelum akhirnya kamu mampu menciptakan framework sendiri.

programmer - ilustrasi
Sumber: Eduonix
Selain dari miskonsepsi yang saya sebutkan di atas, ada pula yang menyatakan bahwa seorang programmer harus mempelajari bahasa pemrograman yang paling baik.
Pertanyaannya: bahasa pemrograman mana yang paling baik?
Jawabannya adalah bahasa pemrograman yang paling kamu butuhkan saat ini, baik bahasa yang paling cocok untuk pekerjaan kamu, maupun bahasa yang akan kamu gunakan untuk menciptakan sebuah program atau aplikasi. Kesimpulannya, kamu sendiri yang menentukan bahasa pemrograman mana yang akan kamu fokus pelajari.
(Artikel ini pertama kali dipublikasikan di Blog Hacktiv8. Isi di dalamnya telah disesuaikan dengan standar editorial Tech in Asia Indonesia; Diedit oleh Septa Mellina)

Dapatkan informasi terkait, tip dan trik, serta insight menarik lainnya!

* Wajib dilengkapi



Kirimkan saya lebih banyak informasi tentang:

ABOUT VANESSA

Marketing Communications Specialist di Hacktiv8
You can create a community post just like Vanessa here!