Minggu, 12 Februari 2017

Mengintip Kantor Octagon Studio, Startup Augmented Reality asal Bandung


5COMMENTS
startup-AR-Bandung-Octagon-Studio-2
Startup teknologi kreatif Octagon bulan lalu membuat sensasi ketika mereka memperkenalkan headset virtual reality (VR) buatan lokal mereka di Popcon, pameran game dan hiburan terbesar di Indonesia. Harganya cuma Rp300.000, dan 200 unit yang mereka jual di Popcon langsung habis.

“Unit yang kami bawa ke Popcon adalah unit versi beta,” jelas Stella Setiyadi, Marketing Manager Octagon. “Tiap unitnya dibuat dari tangan, sehingga kami anggap masih mahal. Kami akan terus memperbaiki proses produksinya sampai bisa menjualnya hanya dengan Rp100.000 per unit.”
startup-AR-Bandung-Octagon-Studio-3
VR Genie, headset VR murah dari Octagon.
Headset VR Octagon kurang lebih mirip dengan Cardboard dari Google yang modelnya memang sederhana. Tapi, unit dari Octagon ini dibuat dari bahan yang lebih tahan lama. Kamu cuma perlu memasang handphone-mu ke layar untuk mendapatkan tampilan virtual reality. Di luar sana sebenarnya ada banyak variasi headset VR seperti ini, dan yang murah biasanya bisa dibeli dengan harga antara $20 sampai $30 (sekitar Rp200.000 sampai Rp400.000).
Kami pernah menulis review Octagon VR Genie buatan Octagon di sini.

Bepergian tanpa bergerak

Octagon menawarkan konten VR mereka sendiri beserta dengan headset yang mereka bawa. Konten ini merupakan koleksi foto 360 derajat pemandangan dan situs bersejarah dari seluruh dunia. Sejauh ini, kebanyakan kontennya berasal dari tim Octagon itu sendiri. Tapi mereka dengan senang hati menerima semua orang yang ingin berkontribusi.
startup-AR-Bandung-Octagon-Studio-9
Octagon 360 memiliki ratusan pengalaman VR yang berbasis pada foto 360 derajat dari berbagai tempat di seluruh dunia.
“Kami suka bepergian,” kata Fitriani Rahmah selaku kepala VR department Octagon.
Tugas Fitriani adalah membuat konten VR Octagon menjadi lebih baik lagi dalam beberapa bulan ke depan. Bagi tim ini, foto 360 derajat ini baru permulaan. Fitriani, atau yang akrab disapa Fitri, mengatakan bahwa berikutnya mereka ingin menyajikan pengalaman yang lebih interaktif, yang memungkinkan kamu berkeliling ke berbagai tempat di lingkungan yang kamu lihat. Sebagai gambaran, ini mirip dengan berjalan-jalan di Google Maps.
startup-AR-Bandung-Octagon-Studio-4
Fitri Rahma, kepala departemen VR Octagon.
Tapi tujuan akhir dari Octagon adalah untuk membuat konten cerita mereka sendiri. Mereka mengajak saya menonton pengalaman VR yang dibuat oleh perusahaan lain yang ceritanya berbasis pada pendaratan di bulan.
“Saya menitikkan air mata ketika pertama kali melihat itu,” kata Fitri. “Inilah yang ingin kami capai.”

Mencurahkan kreativitas

Meskipun industri VR masih sangat-sangat baru, Octagon mencoba mengingat pengalaman mereka berkutat dengan augmented reality (AR) selama dua tahun.
Octagon Studio muncul sebagai pecahan kreatif dari perusahaan induknya, Transport System Solutions (TSS) di tahun 2013. TSS yang membuat sistem sinyal untuk jalur kereta tidak punya urusan apa-apa dengan AR atau VR.
Lantas, bagaimana Octagon bisa muncul?
startup-AR-Bandung-Octagon-Studio-8
Tugas membuat animasi 3D kereta seperti inilah cikal bakal Octagon.
Satu hal yang menghubungkan kedua perusahaan ini adalah 3D modelling. TSS mengerjakan beberapa konten 3D untuk kliennya, dan Michael Healy, salah satu Co-Founder TSS, merasa bahwa inspirasi kreatif dalam dirinya muncul. Ia ingin mengerjakan sesuatu yang lebih menyenangkan daripada berurusan dengan jalur kereta.
Awalnya, Octagon terdiri dari lima orang yang berasal dari TSS. Mereka kemudian setuju untuk menerapkan apa yang mereka tahu mengenai 3D modelling ke augmented reality. Tanpa pengetahuan yang banyak, unit kreatif yang baru ini harus belajar segala hal yang mereka bisa mengenai cara membuat augmented reality.
Stella selaku marketing manager adalah salah satu pegawai pertama yang direkrut. Sekarang ia adalah bagian dari tim yang terdiri dari 30 orang desainer, developer web dan aplikasi, dan copywriter di Octagon.
startup-AR-Bandung-Octagon-Studio
Stella Setiyadi, marketing manager Octagon dan orang yang menyambut saya hari itu.
Perusahaan ini tidak merekrut seorang ahli AR dan VR, karena para ahli seperti itu jarang ditemui di Bandung yang menjadi tempat mereka saat ini.
“Kami hanya memasang lowongan online, lalu melihat portofolio pelamar,” jelas Stella. “Kami adalah tim, dan kami belajar bersama.”
Kesuksesan terbesar Octagon di bidang AR hingga saat ini adalah sebuah set flash card alfabet bertemakan hewan. Tiap huruf alfabet dikaitkan dengan seekor hewan. Ketika kamu mengarahkan kamera ke kartu itu, seekor hewan akan muncul dalam bentuk 3D.
startup-AR-Bandung-Octagon-Studio-6
Octagon 4D+ adalah produk terbaik Octagon saat ini. Kartunya bisa dipesan secara online, sedangkan aplikasinya gratis dan tersedia di iOS dan Android.
Bagi saya itu adalah pengalaman yang keren. Kamu bisa mengambil foto selfie dengan hewan tersebut, atau memutar kartunya untuk melihat seluruh bagian badan hewannya. Idenya memang bukan yang pertama dan sudah banyak dilakukan oleh perusahaan VR lain. Tapi Octagon ingin membuat produk dan perusahaannya beda dengan karya yang sangat detail dan memperkenalkannya secara lebih interaktif dibanding para pesaingnya.
“Kami juga membuat kartu makanan yang bisa diletakkan di depan hewan untuk membuat mereka bereaksi,” jelas Stella.
Saya mencoba meletakkan kartu berisi seikat rumput di atas meja di antara kartu sapi dan kuda. Keduanya kemudian berlari kecil untuk mengambil makanan tersebut.
Stella mengklaim bahwa mereka sejauh ini sudah menjual sekitar 50.000 kartu hewan, dan sekarang ini mereka sedang mengerjakan set kartu yang baru. Satu set akan dibuat berdasarkan karakter kartun, sedangkan set yang lain akan menjelajahi sistem tata surya dan objek luar angkasa, dan yang terakhir bertemakan dinosaurus.
startup-AR-Bandung-Octagon-Studio-5
Emanuel Rendi, perancang 3D Octagon. Gambar digitalnyalah yang diubah menjadi model 3D.

Augmented 3D

Begini cara kerja tim Octagon: pertama, mereka memfinalisasi konsep. Kemudian, ilustrator mereka akan membuat ilustrasi yang mendetail. Ilustrasi ini akan diubah menjadi model 3D oleh perancang 3D mereka. Prosesnya mirip dengan melukis di sebuah aplikasi edit gambar, hanya saja software yang digunakan bisa membuat gambar digital menjadi sebuah mode 3D yang mendetail. Model ini kemudian diserahkan kepada animator yang memasukkan gerakan dan juga suara ke model tersebut. Kemudian, semuanya akan disatukan ke aplikasi AR. Semua proses dan elemen tersebut, termasuk desain paket dan copywriting-nya, ditangani secara in-house.
Tim perancang 3D-nya perlu waktu dua minggu untuk menyelesaikan model 3D.
Selagi sebagian besar timnya mengerjakan set kartu AR yang baru, developer aplikasinya belajar memasukkan objek 3D, bukan gambar 2D.
startup-AR-Bandung-Octagon-Studio-7
Angie Teresia, salah satu developer Android Octagon, mencoba aplikasi yang memindai objek 3D melalui kamera smartphone.
Setelah mereka tahu caranya, Octagon ingin masuk ke dunia baru di penerapan AR praktikal. “Kami belajar bagaimana cara menerapkan AR agar pekerja pabrik bisa menggunakannya untuk mendapat bantuan ketika mereka ingin memperbaiki sebuah mesin,” kata Stella.
Tugas ini memerlukan teknik lain yang harus dikuasai oleh Octagon: bagaimana caranya meng-share objek yang augmented secara real-time?
“Kami ingin para teknisi bisa menghubungi seorang ahli untuk memperlihatkan sebuah model augmented. Mereka kemudian bisa zoom in ke bagian mesin yang rusak, dan si ahli tersebut bisa memberitahu bagaimana cara menangani kerusakan tersebut,” jelas Stella.
Baca juga: Virtual Reality sebagai Metode Marketing, Ampuhkah?

Tidak berhenti sampai ke San Diego

Octagon punya klien komersial untuk produk AR mereka, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Aplikasi yang paling membuat saya kagum adalah aplikasi untuk developer properti Indonesia. Produknya berupa brosur pemasaran yang menampilkan denah berbagai apartemen dan rumah keluarga yang dilengkapi dengan aplikasi pendampingnya. Ketika kamu mengarahkan kamera handphone atau tablet ke gambar di brosur, sebuah model 3D apartemen akan muncul. Kamu bisa zoom in untuk melihat detail interiornya, berpindah lantai, atau memutar ke sudut yang berbeda.
startup-AR-Bandung-Octagon-Studio-1
Ketika memindai brosur, model 3D dari properti yang dipindai bisa dilihat dari berbagai sudut dan kedekatan.
Octagon juga ingin mencoba pasar internasional. Tim ini sudah pernah ikut dua kali dalam Augmented World Expo yang diadakan di Silicon Valley, dan sekali dalam Wearable Tech Expo. Tiap kali ikut di acara tersebut, mereka selalu mendapat nominasi penghargaan, tapi belum pernah memenangkannya. Tapi keikutsertaan mereka tentu membuat mereka sejajar dengan nama besar di industri AR seperti AtheerDaqri, dan APX.
Baca juga: Review Google Cardboard – Varian Budget Ekonomis Dari Headset VR Untuk Android
“Kami ingin tahu, di mana posisi kami di industri ini. Apakah kami sudah cukup maju, masih tertinggal, atau biasa-biasa saja? Pada akhirnya kami menyimpulkan bahwa kami terbilang lumayan.”
Di tahun 2016 nanti, Octagon mengincar Comic Con di San Diego. “Jika kami ke sana, kami tentu harus memperlihatkan sesuatu yang sangat, sangat keren,” kata Stella. “Jika tidak, orang akan heran dan bertanya ‘siapa kamu’?”
(Diterjemahkan oleh Yasser Paragian dan diedit oleh Lina Noviandari)

ABOUT NADINE

Writer at Tech in Asia