Rabu, 14 Desember 2016

Dari Mana GrabTaxi Memperoleh Pemasukan?

2COMMENTS


GrabTaxi sukses menjadi salah satu nama yang paling banyak dibicarakan oleh tech savvy di Asia Tenggara. Paling tidak, GrabTaxi mungkin merupakan aplikasi terbaik untuk memesan taksi di sejumlah negara.

Bagi kamu yang sudah pernah (atau bahkan masih) menggunakan layanan GrabTaxi, mungkin akan bertanya-tanya, sampai kapan mereka akan terus berjaya. Startup -yang menaungi layanan GrabTaxi, GrabCar, dan GrabBike- ini ikut andil dalam pertarungan sengit melawan Uber dan Go-Jek untuk menjadi yang paling unggul, yang berarti menghabiskan banyak uang untuk merayu para calon penumpang dan driver-nya.
Strategi yang mereka gunakan sebenarnya merupakan taktik model lama: mengumpulkan dana lebih banyak dari kompetitor yang ada, lalu menghabiskannya untuk menarik konsumen. Sekilas, tidak peduli pada keuntungan.
Harapannya, ketika sengitnya persaingan mulai sedikit mereda dan dana yang ada sudah tak bersisa, startup akan memiliki market share yang luas yang nantinya akan digunakan untuk memperkuat fondasi dan membangun kerajaan bisnis sendiri.
Apakah GrabTaxi berhasil dengan memakai taktik bisnis ini? Dan bagaimana cara mereka menghasilkan uang? Mari kita cari tahu.

Seberapa besar bisnis mereka?

Singkatnya, sangat besar, khususnya dalam jumlah penggunaan. Berikut beberapa perhitungan untuk dipertimbangkan:
Dua hal yang dapat disimpulkan:
  • Pertumbuhan perusahaan melesat naik setelah mendapat dukungan pendanaan dari venture capital, meskipun akhir-akhir ini cenderung melambat.
  • Mereka berhasil mendapatkan tujuh pemesanan per detik pada bulan Mei, atau sekitar 18,1 juta pemesanan per bulan.
    Bila melihat pada data di atas, kita bisa mendapatkan perkiraan kasar berapa banyak uang yang mereka bisa dapatkan pada tahun 2015.

Namun sebelum itu, bagaimana mereka menghasilkan uang?

Kepada Tech in Asia, Juru bicara GrabTaxi mengatakan:
Secara umum GrabTaxi memperoleh pendapatan dari para driver melalui beragam layanan, seperti GrabTaxi, GrabCar, dan GrabBike. Driver menyimpan sejumlah uang ke dalam akun GrabTaxi, dan jumlah yang sama terpotong untuk setiap pemesanan yang mereka selesaikan.
Sayangnya, perusahaan ini memilih bungkam saat ditanya mengenai persisnya pendapatan yang mereka peroleh sampai saat ini. Namun dulu, mereka pernah mengungkapkan kalau mereka memperoleh sekitar S$0.30 (sekitar Rp2.700) dari setiap pemesanan di Singapura, ฿25 (sekitar Rp9.590) untuk setiap pemesanan di Thailand, antara 5 sampai 10 persen dari ongkos taksi di Malaysia, serta ₱70 (sekitar Rp20.200) per penumpang di Filipina.
Sekilas memang terdengar rumit. Bahkan aneh kalau ternyata mereka hanya mendapat sedikit bagian dari setiap pemesanan di Singapura dibandingkan negara lainnya. Tapi mari kita telaah lebih lanjut.

Jadi, berapa banyak uang yang mereka hasilkan?

Karena tidak mengetahui angka pastinya, kita harus membuat peritungan kasarnya.
Untungnya, kita mendapat cukup informasi publik untuk melanjutkan. Penelusuran ACRA (Accounting and Corporate Regulatory Authority) menunjukkan bahwa saham GrabTaxi, yang mewakili layanan secara keseluruhan, mengumpulkan S$892 ribu(sekitar Rp8,7 miliar) pada tahun 2013. Jumlah tersebut naik menjadi 3,84 juta dolar Singapura (37,5 miliar) di tahun berikutnya.
Bila digabungkan dengan informasi resmi pada jumlah pemesanan layanan yang terjadi perdetiknya, kita akan mendapatkan jumlah perkiraan untuk pendapatan yang diharapkan pada tahun 2015. Besarannya sekitar S$21 juta(sekitar Rp 205 miliar). Kumpulan data ini menjelaskan bagaimana kami mendapatkan jumlah tersebut.

Namun apakah jumlah tersebut menguntungkan?

Anthony Tan, co-founder sekaligus CEO GrabTaxi
Jawabannya kemungkinan tidak. Penelusuran ACRA menunjukkan pendapatan perusahaan sebelum pajak dan bunga ada di angka S$21,8 juta dolar Singapura (sekitar Rp. 213 miliar). Mereka mendapat pendanaan seri E sebesar $350 juta di bulan Agustus (sekitar Rp4,8 triliun), itu artinya mereka masih akan berkutat dalam persaingan dengan Uber dan GO-JEK untuk merebut hati konsumen.
Sebagian besar pengeluaran mereka berasal dari biaya pengembangan dan penelitian, juga biaya pemasaran dan promosi. GrabTaxi mengatakan bahwa para driver diharapkan untuk membiayai pengeluaran mereka sendiri, termasuk bahan bakar dan sewa atau pembelian mobil.
GrabTaxi tidak hanya menggratiskan atau memotong harga layanan kepada penumpangnya. Mereka juga memberi hadiah kepada para driver-nya karena menggunakan aplikasi mereka. Tahun lalu kami mendengar dari seorang driver bahwa, pernah suatu ketika perusahaan memberi uang antara S$6 (sekitar Rp59.000) hingga S$8 (sekitar Rp78.000) untuk setiap pemesanan di Singapura. Bila melihat jumlah pemesanan yang ada, perusahaan harus menanggung biaya yang sangat besar setiap bulannya.
Semua aplikasi taksi terkemuka di Asia Tenggara menjalankan promosi serupa. Sulit dipercaya memang. Menurut seorang pengemudi taksi, aplikasi tandingan, Hailo, memberikan S$160 (sekitar Rp1,55 juta ) untuk 40 pesanan pertama yang diselesaikan oleh driver dalam periode 1-15 Juni tahun ini, dan S$100 dolar Singapura (sekitar Rp1,37 juta) untuk 20 pemesanan berikutnya.

Kapan GrabTaxi bisa memperoleh keuntungan?

Kami merasa keuntungan yang diharapkan, setidaknya tak akan datang pada satu-dua tahun ke depan. Perang aplikasi transportasi baru saja dimulai. Semua penyedia aplikasi berlomba-lomba menantang Uber, perusahaan dengan sumber daya yang mumpuni, dan menghasilkan uang jauh lebih banyak ($2 miliar (sekitar Rp27 triliun) tahun ini), dan menurut Recode, mereka mengambil keuntungan yang lebih besar (20 persen), dari driver-nya.
Namun di luar itu, keuntungan mungkin bisa diperoleh. Semua pengeluaran extra besar tersebut harus diakhiri setahap demi setahap. GrabTaxi harus berusaha untuk menambah pemasukkan dari setiap pemesanan, yang mana tak akan mudah mengingat begitu sensitifnya para konsumen di negara berkembang seperti Asia Tenggara terhadap harga.
Kami berani bertaruh bila GrabTaxi akan bergabung dengan perusahaan lain. Sejauh ini rasanya belum ada alasan kuat bagi mereka bila terus-menerus berjuang sendiri. Selain itu, sulit rasanya untuk mendapat keuntungan yang pasti jika mereka terus tampil sebagai perusahaan independen.
Merger dengan Didi Kuaidi adalah satu hal yang mungkin terjadi. Didi sendiri merupakan investor seri-E sebesar $350 juta (sekitar Rp4,8
miliar  triliun) untuk GrabTaxi.
(Diterjemahkan oleh Faisal Bosnia dan diedit oleh Pradipta Nugrahanto)

sumber