Selasa, 27 Desember 2016

Bagaimana masa depan Internet of Things di Asia?


0COMMENTS
IoT_1
Anis Uzzaman adalah General Partner dan Founding Member Fenox Venture Capital yang berbasis di Silicon Valley. Sebagai CEO, ia bertanggung jawab atas manajemen dan operasional perusahaan. Hari ini (6/5), Anis hadir di panggung Tech in Asia Singapore 2015, dimana ia menyampaikan pidato mengenai tren di Silicon Valley dan bagaimana hal tersebut bisa terhubung dengan pasar Asia.

Saatnya membuat hardware Anda menjadi online

Pada pidatonya, Anis menuturkan bila Internet of Things (IoT) adalah sesuatu yang harus diperhatikan startup dan investor. “Dengan IoT, Anda bisa menjadi sangat berbeda, dan Anda bisa membuat produk yang unik,” jelasnya. Ia juga menjelaskan bahwa saat ini tidak perlu lagi mengeksplor ranah seperti aplikasi chattinge-commerce tradisional dan ranah lainnya yang sudah banyak digarap.
Anis menambahkan, di tahun 2014, 14,2 miliar perangkat terhubung dengan internet. Di tahun 2015, perkembangannya sudah mencapai 15,8 miliar, dan masih akan terus berkembang cepat. Menurutnya, di tahun 2020, IoT akan bernilai USD1,9 triliun (Rp24,8 kuadriliun) dari perekonomian global. Anis juga mengatakan bila Fenox telah menggandeng sejumlah pemain yang bergerak di ranah ini, salah satunya adalah dengan memberikan investasi pada EDYN, sistem perkebunan pintar (smart garden), yang bisa memantau kondisi lingkungan sekitar.
IoT_2
Baca juga:Geeknesia, platform untuk mempermudah pembuatan produk Internet of Things

Ranah yang bisa dikembangkan

Anis menambahkan bila IoT dapat membantu dunia mengembangkan banyak hal. Sebagai contoh, ia menambahkan bila sektor kesehatan berbasis IT akan banyak memberikan solusi bagi rumah sakit, anak-anak, dan orang tua.
Lebih lanjut, industri manufaktur juga berpotensi mendapat keuntungan tersendiri dari IoT. Manajemen produksi adalah sesuatu yang dapat meningkat drastis di seluruh dunia. Anis menambahkan bila IoT sangat mungkin untuk membantu bisnis ritel.
Perangkat wearable juga dinilai Anis berpotensi membesar di Amerika Serikat dan Asia. Karena itulah, Fenox berinvestasi di META, perusahaan yang berfokus pada pengembangan augmented reality. “Startup ini datang dari Y Combinator sekitar dua tahun lalu. Kini mereka telah menjadi sangat besar di Silicon Valley,” jelas Anis.
IoT_3
Anis juga percaya bila perangkat wearable akan menjadi garda depan teknologi. Ia angkat topi untuk fitness band Jawbone, dan Google yang telah mematenkan deodorant digital. Ia juga memberikan sanjungan pada Google yang tengah mencoba membuat perangkat untuk mencegah kanker dengan menggunakan perangkat wearable. Ia mengatakan:
Idenya adalah ketika Anda menggunakan perangkat tersebut di tangan ada zat-zat yang masuk melalui pembuluh darah sehingga dapat mencegah timbulnya enzim yang berpotensi menimbulkan kanker.

Artikel ini merupakan bagian dari liputan Tech Asia Singapore 2015 yang berlangsung pada tanggal 6 dan 7 Mei. Baca semua artikel terkait acara tersebut di sini.

Fenox Venture dan Y Combinator juga berinvestasi di Tech in Asia. Baca halaman etika kami untuk informasi lebih lanjut.
(Diterjemahkan oleh Pradipta Nugrahanto dan diedit oleh Ketut Krisna Wijaya)

ABOUT LEIGHTON