Rabu, 14 Desember 2016

15 Startup di Asia Tenggara dengan Investasi Terbesar di Tahun 2015

2COMMENTS
dollars-flickr-720-720x459
Sebagai tempat tinggal bagi lebih dari 600 juta penduduk dunia, tidak mengherankan bila Asia Tenggara menjadi satu di antara sepuluh kekuatan ekonomi terbesar di dunia dan memiliki angkatan tenaga kerja ketiga terbesar di dunia setelah Cina dan India, pernyataan ini mengacu pada data dari McKinsey, perusahaan konsultasi manajemen multinasional.

Pertumbuhan ekonomi di wilayah ini yang terhitung pesat dan relatif stabil selama satu dekade ke belakang, menjadikannya pasar yang menggiurkan bagi para investor dan pebisnis. Semua faktor tersebut mempercepat pertumbuhan ekosistem startup di Asia Tenggara.
Tahun ini, kita menjadi saksi atas melimpahnya aliran uang yang dikucurkan ke wilayah ini. Berbicara mengenai kondisi pasar, Singapura dan Indonesia menjadi dua titik yang paling tersohor dan dianggap penting oleh kalangan investor. Hal ini sebenarnya bukan sesuatu yang mengherankan, karena tingkat kemakmuran yang tinggi di Singapura, dan populasi Indonesia yang juga sangat besar.
Pertanyaan berikutnya adalah, startup mana yang menduduki posisi tertinggi dalam hal pendanaan di tahun 2015? Kami melihat kembali database kami dan menemukan 15 startup dengan pendanaan tertinggi pada tahun 2015. Dari urutan paling rendah hingga paling tinggi:

15. DocDoc (Singapura), $8,5 juta (sekitar Rp118 miliar)

docdoc
DocDocstartup yang membantu pasien membuat reservasi dengan dokter secara online ini, meraih $8,5 juta (sekitar Rp 118 miliar) dalam pendanaan seri A dari Hong Leong Financial Group dan SparkLabs Global Ventures pada bulan April. Co-founder mereka, Cole Sirucek mengatakan bahwa dana tersebut akan digunakan untuk memperkuat penetrasi pasarnya.
Sistem kerja startup ini adalah mencocokkan kebutuhan pasien dengan dokter yang ingin mengisi daftar pasien mereka. Mereka mengenakan biaya berlangganan per bulan kepada dokter yang mendaftar di situs mereka.
Simak laporan lengkap kami di sini.

14. Attune Technologies (Singapura), $10 juta (sekitar Rp139 miliar)

attune-technologies-stall-720x383
Attune Technologies didirikan untuk menyediakan alternatif mahalnya software manajeman rumah sakit konvensional kepada rumah sakit kecil dan laboratorium.
Perusahaan perangkat lunak berbasis cloud ini melayani para pelanggan di Singapura, – markas mereka – India, Sri Lanka, Filipina, Indonesia, Malaysia, dan Kenya.
Setelah mendapat pendanaan seri B sebesar $10 juta (sekitar Rp139 miliar) dari Qualcomm Ventures dan Norwest Venture Partners pada bulan Oktober, mereka berencana akan segera menghadirkan layanan mereka di Timur Tengah, serta memperluas pasar mereka di Asia Tenggara dan afrika.
Kini perusahaan tersebut memegang rekor penanganan pasien sebanyak 10 juta orang dari berbagai pusat layanan kesehatan mereka.

13. Zimplistic (Singapura), $11,5 juta (sekitar Rp159 miliar)

Screenshot-2015-04-07-16.02.34
Seorang insinyur mesin berpaspor Singapura keturunan India, Pranoti Nagarkar, menawarkan prototipe mesin pembuat roti khas India (roti yang berbentuk pipih dan terbuat dari tepung gandum utuh) otomatis yang memenangkan kompetisi startup bergengsi di Singapura tahun 2009 silam.
Namun startup-nya Zimplistic dan mesin pembuat rotinya hanya menjadi ide komersil setelah suaminya Rishi Israni, insinyur perangkat lunak, bergabung sebagai co-founder dua tahun setelahnya.
Dengan keahlian pemrogramannya, Israni mengubah mesin pembuat roti menjadi perangkat pintar bernama Rotimatic dan membantu perusahaannya meraih pendanaan dari beberapa investor pribadi.
Selama satu minggu masa peluncurannya, mesin pembuat roti yang satuannya di banderol dengan harga $599 (sekitar Rp8,3 juta), terjual hingga menyentuh angka $5 juta (sekitar Rp69,5 miliar). Disusul dengan jumlah pre-order yang membludak.
Pada bulan Juli lalu, Zimplistic mengumpulkan $11,5 juta (sekitar Rp159 miliar) dalam pendanaan seri B dari NSI Ventures dan Robert Bosch Venture Capital. Rencananya mereka akan menggunakan uang tersebut untuk merampungkan Rotimatic versi beta, mempercepat pembuatan pabrik, dan mengatur rencana operasi mereka di pasar internasional untuk memenuhi permintaan yang tinggi.
Simak laporan lengkap kami di sini.

12. HappyFresh (Indonesia), $12 juta (sekitar Rp166 miliar)

Courier-720x377
Pada bulan September, aplikasi layanan pesan antar bahan makanan asal Indonesia HappyFresh mendapat suntikkan dana $12 juta (sekitar Rp166 miliar) dalam pendanaan seri A dari Vertex Ventures dan Sinar Mas Digital Ventures, investor lainnya yang turut berinvestasi adalah Venture Group, Beenext, Ardent Capital, Cherry Ventures serta 500 startup lainnya.
CEO dan Co-Founder Markus Bihler berencana menggunakan suntikan dana ini untuk memperluas jangkauan pasar mereka di Asia Tenggara. Selain di Indonesia, HappyFresh juga turut hadir di Malaysia, Thailand dan Taiwan.
Perusahaan ini adalah yang pertama di industri marketplace bahan makanan di tanah air. Didirikan pada bulan Oktober 2014, perusahaan ini bekerja sama dengan berbagai supermarket terkenal dan meluncurkan jaringan logistik on-demand yang mampu mengirim pesanan dalam waktu kurang dari satu jam.
Di sisi lain mereka juga berhadapan langsung dengan banyak kompetitor di Asia Tenggara: Go-Food (GO-Jek), Black Garlic, dan Sukamart di Indonesia; Tesco Lotus dan Tops Shop Online di Thailand; serta Honestbee dan RedMart di Singapura.
SImak ulasan lengkap kami di sini.

11. Coc Coc (Vietnam), $14 juta (sekitar Rp194 miliar)

Coc-Coc-search-engine-gets-funding-in-Vietnam-720x395
Vietnam merupakan satu dari sedikit tempat di dunia yang membuat Google harus berhadapan dengan kompetitor kuat untuk urusan search engine – Coc Coc.
Pada Februari lalu, Coc Coc mengamankan pendanaan seri B sebesar $14 juta (sekitar Rp194 miliar) dari perusahaan asal Jerman, Hubert Burda Media untuk membantu meningkatkan pertumbuhan serta teknologi perusahaan.
Co-Founder dan CEO Victor Lavrenko, mengatakan kalau uang tersebut akan dialokasikan untuk memperkenalkan search engine mereka di Asia Tenggara, meskipun ia tak memaparkan secara rinci rencana tersebut.
Simak laporan lengkap kami di sisni.

10. Fastacash (Singapura), $15 juta (sekitar Rp208 miliar)

fastacash_macbook
Salah satu perusahaan teknologi yang bergerak di bidang finansial atau biasa disebut fintechFastacash meraih suntikan dana sebesar $15 juta (sekitar Rp208 miliar) dalam pendanaan seri B pada bulan Juli lalu, dan diklaim sebagai salah satu investasi terbesar yang pernah diraih oleh perusahaan fintech di Singapura.
Putaran pendanaan tersebut dipimpin oleh Rising Dragon Singapore, sementara itu investor lain yang ikut berpartisipasi adalah perusahaan venture capital fintech asal Rusia, Life.Sreda dan UVM 2 Venture Investments.
Fastacash adalah aplikasi pembayaran via mobile, namun hanya terbatas pada pendekatan business to business. Perusahaan ini menawarkan platform pembayaran sehingga dengan menggunakan aplikasi ini penggunanya dapat mengirimkan sesuatu yang bernilai (contoh: uang, pulsa, atau hal bernilai lain yang sifatnya digital) lewat media sosial atau pesan singkat tertulis.
Sebagai contoh, Fastacash telah menjalin kerja sama dengan bank DBS Singapura untuk menyediakan pembayaran lewat aplikasi DBS Paylah!. Di India, mereka bekerja sama dengan bank Axis untuk meluncurkan Ping Pay, yang membuat penggunanya dapat mengirimkan uang dan mengisi pulsa lewat Facebook, WhatsApp, Twitter, SMS, atau e-mail.
Simak laporan lengkapnya di sini.

9. Honestbee (Singapura), $15 juta (sekitar Rp208 miliar)

honestbee-shopper-720x438
Honestbeestartup yang menyediakan layananan pesan antar bahan makanan, berhasil meraih $15 juta (sekitar Rp208,5 miliar) di Bay Area pada putaran pendanaan seri A Oktober lalu. Perusahaan investasi asal Silicon Valley, Formation 8, memimpin putaran pendanaan ini, ada juga Pejman Mar Ventures yang ikut berinvestasi untuk Dropbox dan Lending Club, tak ketinggalan Facebook, Amazon, petinggi Google, Gideon Yu, Owen Van Natta, dan Steve Chen juga turut berinvestasi.
Honestbee menggunakan jasa staf paruh waktu untuk ditugaskan berbelanja kebutuhan dan mengantarkannya ke pelanggan mereka. Perusahaan ini beroperasi di Singapura dan Hongkong, dan berencana memperluas pangsa pasarnya di enam kota berbeda di Asia Tenggara tahun depan nanti.
Di Singapura, pesaing utama Honestbee adalah Redmart, yang memiliki gudang dan armada kendaraan sendiri.
Simak laporan lengkap kami di sini.

8. MyRepublic (Singapura), $16 juta (sekitar Rp222 miliar)

myrepublic-cover1
MyRepublic meraih pendanaan sebesar $16 juta (sekitar Rp222 miliar) pada bulan Juli, dana tersebut diperoleh dari perusahaan telekomunikasi asal Brunei DST Communications, serta beberapa investor lain. Perusahaan ini bertekad untuk menjadi penyedia jasa telekomunikasi ke empat terbesar di Singapura setelah SingTel, Starhub, dan M1. Mereka menawarkan layanan internet broadband dan sedang bersiap menyediakan layananmobile.
Pada bulan Oktober, MyRepublic mengadakan uji coba layanan mobile mereka di area distrik Jurong Lake, Singpura, di mana 1.000 peserta diberi kesempatan untuk mencoba layanan telepon perusahaan dan data 4G.
Simak ulasan selengkapnya di sini.

7. Bhinneka (Indonesia), $22 juta (sekitar Rp305 miliar)

Bhinneka-brick-and-mortar-720x405
Bhinneka menjual berbagai macam merek dan jenis komputer, layanan server, perangkat lunak, fotografi dan aksesori, printer, aksesori komputer, serta peralatan elektronik. Di atas panggung Tech in Asia Jakarta 2015 November lalu, perusahaan e-commerce asal Indonesia ini mengumumkan telah mendapatkan investasi sebesar $22 juta (sekitar Rp205 miliar) dari venture capital Ideosource.
Managing partner Ideosource, Andi Budiman mengatakan kepada hadirin pada kesempatan itu, bahwa putaran pendanaan tersebut adalah investasi terbesar yang mereka bukukan. Ia menambahkan, bahwa perusahaannya tak yakin harus menyebut tahapan atau seri ke berapa pendanaan tersebut, pasalnya Bhinneka telah membiayai perusahaan secara mandiri sejak awal kemunculannya pada tahun 1999 silam, dan masih terus bertahan di ranah e-commerce.
Andi mengatakan kalau Bhinneka akan mencari talenta terbaik dari dalam negeri untuk bekerja di bagian pemasaran dan teknologi mereka dalam rangka memperkokoh perusahaan.
Simak laporan lengkap kami di sini.

6. Elevenia (Indonesia), $23,4 juta (sekitar Rp325 miliar)

James-Lee-CEO-elevenia-720x540
Situs e-commerce Indonesia kedatangan pemain baru pada tahun 2014 – Elevenia, perusahaan patungan antara XL Axiata dengan perusahaan layanan mobile dan online asal Korea Selatan, SK Planet.
Dengan dukungan investasi yang sejauh ini telah menyentuh angka $60 juta (sekitar Rp835 miliar), Elevenia akan berhadapan langsung dengan penyedia layanan sejenis lainnya di Indonesia seperti Tokopedia, BukaLapak, dan Lazada.
Dari keseluruhan investasi yang mereka terima, $36,6 juta (sekitar Rp508 miliar) didapatkan dari mitra venture gabungan, sementara sisanya mereka dapatkan pada pendanaan seri B pada bulan Januari.
Meskipun Elevenia bukan e-commerce yang paling dikenal luas di ranah e-commerce Indonesia, namun perusahaan itu terbilang agresif dan cukup disegani saat ini.
Cari tahu lebih lanjut mengenai Elevenia di sini.

5. RedMart (Singapura), $26,7 juta (Sekitar Rp371 miliar)

redmart-logistics-screen-720x362
Layanan pesan antar kebutuhan bahan makanan, RedMart membukukan pendanaan sementara sebesar $26,7 juta (Sekitar Rp371 miliar) pada bulan Agustus tahun ini sebagai persiapan untuk pendanaan seri C, yang mana dana tersebut nantinya akan digunakan untuk memperluas cakupan pasar mereka. Para investor yang telah bergabung di antaranya adalah Garena, Softbank Ventures Korea, Visionnaire Ventures, dan tak ketinggalan salah satu Co-Founder Facebook Eduardo Saverin.
Selama bertahun-tahun, RedMart mengklaim memiliki perbedaan mendasar dibanding layanan serupa seperti Honestbee, dengan menjalankan bisnis dari hulu ke hilir – mulai dari gudang penyimpanan hingga ke tangan konsumen.
Sebelumnya RedMart pernah mengatakan bila mereka sedang mempertimbangkan untuk menghadirkan layanan mereka di kota-kota besar seperti Jakarta, Bangkok, Hong Kong, Kuala Lumpur, Ho Chi Minh, Manila dan Taipei sebagai tujuan ekspansi mereka berikutnya.
Simak laporan lengkap kami di sini dan di sini.

4. iFlix (Malaysia), $30 juta (sekitar Rp417 miliar)

azran-iflix-ipad-wide-720x527
Tak lama lagi penduduk Asia Tenggara akan dapat melakukan streaming jajaran film baru dan siaran televisi karena iFlix telah suskes meraih pendanaan sebesar $30 juta (sekitar Rp417 miliar) pada putaran seri A dari induk perusahaan Catcha Group dan perusahaan telekomunikasi asal Filipina, Long Distance Telephone Company bulan April lalu.
iFlix, yang menghadirkan layanan serupa Netflix (Amerika Serikat dan Eropa), mengatakan bila investasi tersebut akan digunakan untuk melanjutkan ekspansi mereka di Asia Tenggara, menyajikan lebih banyak konten, serta produksi konten orisinal.
Saat ini iFlix baru tersedia di Malaysia, Filipina, dan Thailand.
Simak keterangan lebih lanjut mengenai pendanaan mereka di sini.

3. Antuit (Singapura), $56 juta (sekitar Rp778 miliar)

antuit
Antuitstartup penyedia solusi kebutuhan big data mengejutkan banyak pihak saat mereka berhasil meraup investasi $56 juta (sekitar Rp778 miliar) pada Januari lalu, hanya dalam jangka waktu 18 bulan sejak mereka mulai beroperasi. Raksasa perbankan Goldman Sachs memimpin putaran pendanaan seri A tersebut, turut serta investor asal India, Zodius capital.
Antuit menyediakan analisis dan konsultasi big data bagi berbagai macam bisnis, termasuk beberapa perusahaan yang masuk jajaran 500 perusahaan terbesar di Amerika Serikat. Yang membuatnya berbeda dibandingkan kompetitor yang lain adalah mereka tak hanya menyediakan kliennya akses terhadap big data, namun juga bertindak sebagai mitra dengan menjalin kerja sama dalam menganalisis dan merencanakannya.

2. PropertyGuru (Singapura), $129,3 juta (Sekitar Rp1,797 triliun )

propertyguru-mobile
Portal properti online PropertyGuru menerima pendanaan seri D sebesar $129,3 juta (Sekitar Rp1,797 triliun) dari “konsorsium strategis”. Konsorsium tersebut terdiri dari perusahaan media asal Indonesia Emtek (yang telah menjadi mitra mereka di Indonesia), venture capital Square Peg Capital, dan perusahaan investasi internasional TPG.
Perolehan pendanaan ini akan membantu PropertyGuru untuk berekspansi di Asia Tenggara, dan juga memperluas marketing dan “inovasi” mereka.
Co-Founder sekaligus CEO Steve Melhuish mengatakan wilayah Asia Tenggara memberi kesempatan besar bagi PropertyGuru – masyarakat kelas menengah mulai bermunculan dan real estate tetap menjadi primadona investasi bagi kebanyakan masyarakat. Melhuish merasa lanskap pasar real estate yang lebih terbentuk seperti, Eropa barat, menunjukkan tanda-tanda yang sama seperti yang dimiliki oleh Asia Tenggara saat ini.
Simak laporan lengkap kami di sini.

1.GrabTaxi (Singapura), $350 juta (sekitar Rp4,8 triliun)

passengerapp-01-720x480
GrabTaxi, pesaing terberat Uber di Asia Tenggara, mendapat dukungan yang tak main-main dari Cina dengan sokongan dana $350 juta (sekitar Rp4,8 triliun) pada putaran seri E bulan Agustus lalu, investor utama mereka adalah aplikasi layanan taksi terbesar di Cina, Didi Kuaidi, dan China Investment Corporation (CIC)
Investasi tersebut memperkuat spekulasi yang mengatakan bahwa kerja sama besar-besaran untuk “membunuh” Uber sedang digalakkan. CIC merupakan investor bagi Didi Kuaidi, yang ternyata juga berinvestasi di Lyft Amerika Serikat serta Ola India. Perusahaan tersebut juga memiliki dukungan venture capital serupa, yang paling terkenal adalah SoftBank.
Bicara soal mimpi buruk, Uber ternyata benar-benar harus menghadapinya pada bulan ini setelah GrabTaxi membentuk aliansi berbagi penumpang. Nantinya, pelanggan GrabTaxi, Didi Kuaidi, Lyft, dan Ola dapat memilih satu di antara ke empat layanan tersebut saat mereka berada di negara di mana layanan tersebut tersedia. Layanan ini akan diresmikan mulai kuarter pertama tahun 2016 nanti.
Pertarungan sengit di ranah startup transportasi memang sangat menarik untuk diikuti.
Simak laporan kami mengenai pendanaan GrabTaxi dan aliansi berbagi penumpang di sini dan di sini.