Rabu, 09 Agustus 2017

Artawana, Startup P2P Lending yang Fokus Pada Pinjaman dengan Jaminan Properti

Founder: Robert; Rocky Stephanus
Industri: 
P2P lending
Status pendanaan: Pre-seed
  • Artawana merupakan platform peer to peer (P2P) lending yang bisa menghubungkan para peminjam dengan para pemberi pinjaman dengan jaminan rumah dan apartemen.
  • Artawana telah mendapat pendanaan pre-seed (pra-tahap awal) dari East Ventures.

    Fokus pada pinjaman dengan jaminan rumah dan apartemen

    Artawana | Screenshot
    Pengalaman sebagai manajer investasi di beberapa perusahaan keuangan Eropa dan Singapura, membuat seorang lulusan Master dari ETH Zurich bernama Robert sadar akan masalah yang ada di industri keuangan tanah air. Menurutnya, industri keuangan di Indonesia terlalu kaku dan teratur (over regulated), sehingga banyak kebutuhan masyarakat yang tidak bisa terpenuhi oleh lembaga keuangan yang ada.

    Hal ini mendorong Robert untuk coba membuat beberapa produk keuangan, sejak ia kembali ke Indonesia pada pertengahan tahun 2016. Dari berbagai uji coba tersebut, ia berusaha menentukan produk keuangan seperti apa yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia.
    Sejak awal, ia telah mengajak rekannya yang saat itu masih bekerja sebagai Product Manager di Traveloka, Rocky Stephanus, untuk bergabung. Namun baru pada bulan April 2017, Rocky akhirnya memutuskan untuk berhenti dari startup travel online tersebut, dan fokus membangun startup fintech bernama Artawana bersama Robert.
    Artawana sendiri merupakan platform peer to peer (P2P) lending yang bisa menghubungkan para peminjam dengan para pemberi pinjaman. Berbeda dengan layanan lain, Artawana hanya fokus pada orang-orang yang ingin mencari pinjaman dengan jaminan berupa rumah atau apartemen. Menurut mereka, jaminan berbentuk properti tersebut bisa lebih memberikan rasa aman bagi pemberi pinjaman.
    “Di sisi lain, kami juga melihat kurangnya akses pendanaan cepat bagi para peminjam dengan jaminan berupa properti. Bila ada, sang pemberi pinjaman biasanya menetapkan bunga yang sangat tinggi,” jelas Rocky kepada Tech in Asia Indonesia.
    Untuk mendapatkan fasilitas pinjaman dari Artawana, kamu hanya perlu mengajukan permohonan kepada agen properti, konsultan keuangan, dan lembaga keuangan yang menjadi mitra Artawana. Setelah itu, pihak Artawana akan melakukan verifikasi secara digital dan menjadwalkan survei lapangan.
    Menurut Rocky, proses dari pengajuan aplikasi hingga pencairan pinjaman akan memakan waktu hingga lima hari kerja. Waktu tersebut bisa bertambah hingga tujuh hari kerja untuk pinjaman di atas Rp1,5 miliar. Mereka pun membuat perjanjian pengikatan kredit dan jaminan, demi menjaga legalitas dari proses tersebut.
    “Dalam waktu tiga bulan ke depan, kami akan mengembangkan produk yang bisa membantu agen lapangan kami untuk melakukan sourcing dan verifikasi dengan lebih cepat dan efisien,” jelas Rocky.

    Telah mendapat investasi pre-seed dari East Ventures

    Artawana 2 | Screenshot
    Contoh pinjaman di Artawana
    Sejak meluncur dalam versi beta di bulan Mei 2017, Artawana mengaku telah mempunyai lebih dari seribu pemberi pinjaman di dalam platform mereka. Namun hingga saat ini mereka baru memberikan kurang dari dua puluh pinjaman dengan total nominal di bawah Rp10 miliar.
    “Kami ingin lebih serius dan agresif karena telah melihat product market fit dari layanan kami saat ini. Kami menargetkan bisa mendapat sepuluh ribu pemberi pinjaman dalam tiga bulan ke depan,” tutur Rocky.
    Saat ini Artawana telah mempunyai sembilan orang tim termasuk kedua co-founder. Mayoritas dari karyawan mereka merupakan developer. Mereka pun telah mendapatkan pendanaan pre-seed dari East Ventures.

    Hadapi tantangan dari perusahaan keuangan konvensional

    Tantangan terbesar yang dihadapi Artawana saat ini, menurut Rocky, adalah kurang siapnya infrastruktur data seperti data kependudukan yang berguna untuk menganalisa calon peminjam. Untuk mengatasi masalah tersebut, para developer mereka pun coba memanfaatkan teknologi untuk menyiasati masalah tersebut.
    Mereka pun mengaku masih harus bersaing dengan perusahaan keuangan konvensional yang bisa memberi pinjaman secara offline.
    “Untuk itu, kami pun menawarkan proses pengajuan pinjaman yang lebih sederhana, dengan bunga yang rendah. Kami pun memberikan pilihan bagi peminjam untuk membayar bunga terlebih dahulu (tidak perlu mencicil pokok pinjaman),” tutur Rocky.
    Sedangkan untuk bersaing dengan layanan P2P lending lain yang tengah menjamur di tanah air seperti InvestreeModalku, dan Amartha, Artawana mengaku yakin dengan fokus mereka yang hanya memberi pinjaman dengan jaminan properti. Sejauh ini baru ada beberapa layanan seperti Crowdo yang juga menerima jaminan berupa rumah.
    “Kami juga ingin fokus mengembangkan model analisa kami dalam melakukan verifikasi identitas peminjam, serta dalam melakukan penilaian terhadap nilai aset properti yang mereka jaminkan,” pungkas Rocky.