Rabu, 22 November 2017

5 Pelajaran Membangun Startup untuk Mahasiswa dari Co-Founder Tiket.com Natali Ardianto

natali-ardianto-tiketPada pertengahan Februari lalu, Tech in Asia Campus Visit mengunjungi Institut Pertanian Bogor untuk kedua kalinya. Kali ini Natali Ardianto, yang merupakan CTO dan Co-Founder Tiket.com, berbagi lima pelajaran untuk para mahasiswa yang ingin membangun startup.

Natali menuturkan kisahnya dalam membangun Tiket.com, bagaimana startup miliknya itu dapat berkembang menjadi besar hingga seperti saat ini. Tiket.com sendiri tidak terlalu mengandalkan investor dalam membangun bisnisnya.
DSC06592
Natali saat berbicara di acara Tech in Asia Campus Visit di IPB
Berawal dari angel investor yang mendanai perusahaan di awal terbentuknya Tiket.com, ia juga menceritakan kesuksesan yang pernah diraih Tiket.com. Berikut lima pelajaran yang Natali dapatkan saat membangun Tiket.com.

1. Rilislah produkmu sekarang

Release early, release often. And listen to your customers—Eric S. Raymond.
Pernahkah kalian mendengar kalimat di atas? Kalimat ini yang menjadi acuan Linus Torvalds dalam mengembangkan Kernel Linux miliknya.
“Jangan sampai kita bermain dengan pikiran kita sendiri. Padahal masalah yang akan kita selesaikan adalah masalah pelanggan. Jadi ketika kita merilis, sebenarnya kita baru menemukan masalahnya,” ujar Natali.
Hal yang menarik yang saya dengar dari Natali adalah mereka hampir merilis sesuatu yang baru tiap bulannya, mereka tidak menunggu sampai produk mereka lengkap. Seringkali kita berpikir apakah ini cocok untuk dirilis, atau apakah pengguna akan memaki kita dengan produk yang kita buat.
Natali menyarankan kita untuk tidak berpikir seperti itu, karena kita hanya bisa tahu apakah produk kita baik untuk pengguna atau tidak setelah kita merilisnya. Dari situ kita akan mendapat masukan untuk produk kita. Dengan begitu, kita bisa memperbaiki produk kita secepatnya agar semakin sesuai dengan apa yang diinginkan pengguna.

2. Tidak ada yang terlalu muda untuk bisnis yang besar

“Ini artinya start early,” ujarnya. “Sebenarnya saat ini anak muda malah lebih dipandang, maka dari itu jangan suka malu karena umur yang terlalu muda,” tambahnya.
Tiket.com merupakan perusahaan ketiga Natali. Beliau sudah sering merasakan kegagalan dalam membangun startup.
Pengalaman adalah guru paling berharga.
Keuntungan jika kamu memulai startup sejak muda adalah kamu akan lebih sering merasakan kegagalan lebih awal. Semakin awal kamu gagal, maka akan semakin semangat kamu belajar dari kegagalan itu.

3. Lakukan yang terbaik dan belajar dari yang terbaik

Natali mengatakan, sembilan puluh persen pengetahuan entrepreneur miliknya datang dari para senior dan mentor-mentornya. Tiket.com memiliki susunan komisaris yang terdiri dari orang-orang berpengalaman. Ia berpandangan bahwa seorang founder tidak harus menguasai posisi atas. Selain itu, demi kemajuan perusahaannya, ia harus mengambil orang-orang berpengalaman untuk membantunya.
Jika kalian tahu, perusahaan teknologi yang sudah besar seperti Facebook, Google, dan lainnya merekrut komisaris dari orang-orang yang berpengalaman. Sebagai founder yang memiliki latar belakang sebagai programmer, pola pikirnya otomatis lebih ke arah menciptakan produk yang hebat. Karena itu, ia merasa merekrut orang-orang yang berpengalaman untuk menjadi mentornya adalah hal yang penting.

4. Jangan menunggu pasar

“Masuk ke pasar secepat mungkin,” ujarnya. Natali mengatakan, startup yang masuk ke pasar terlebih dulu akan berkuasa di sana. “Lihat bagaimana GO-JEK masuk ke pasar lebih dahulu, dan beberapa kompetitornya bersusah payah melakukan penetrasi.”
Terkait dengan poin tersebut, ia menyarankan jangan menunda perilisan hingga produkmu lengkap. Dengan begitu, kamu bisa “mencantumkan” nama lebih dulu dibanding kompetitor. Ini kira-kira sejalan dengan apa yang diucapkan oleh almarhum Steve Jobs:
The best way to predict the future is to invent it.

5. Jangan pernah meremehkan kekuatan dari ketekunan dan konsistensi.

“Sebenarnya orang Indonesia memiliki talenta yang luar biasa, hanya saja mental kita yang masih lemah,” ungkapnya. Ia menambahkan, banyak orang-orang Indonesia yang berprestasi di kancah internasional.
“Kebanyakan masyarakat Indonesia belum apa-apa sudah bilang tidak bisa,” tambahnya.
Ini yang menjadi penyebab seseorang tidak berkembang. Mereka menyerah di awal, padahal mereka tidak akan tahu sebelum mencobanya. Natali menyarankan, sebagai mahasiswa jangan pernah menyerah sebelum mencoba. Karena, jika kamu tekun dan konsisten mencoba, kamu akan merasakan manfaatnya.

Bagi kamu mahasiswa yang tertarik dengan Campus Visit dan ingin menjadi bagian dari komunitas ini, kami mempersilakan kamu untuk bergabung ke dalam grup Facebook Tech in Asia – Campus Visit. Dalam grup ini, kamu akan bertemu dengan mahasiswa lainnya yang berjiwa entrepreneur dan dapat saling berbagi informasi yang menarik dan berguna.
(Diedit oleh Fadly Yanuar Iriansyah)
sumber